Senin, 21 Mei 2012

URAIAN TUGAS DAN WEWENANG PERSONIL JURUSAN OTOMOTIF TEKNIK SEPEDA MOTOR SMK MA’ARIF 1 SUMEDANG


URAIAN TUGAS DAN WEWENANG PERSONIL
JURUSAN  OTOMOTIF TEKNIK SEPEDA MOTOR
SMK MA’ARIF 1 SUMEDANG

A. TUJUAN
1.       Adanya pembagian tugas yang jelas antar personil jurusan otomotif
2.       Terciptanya sistem kerja yang terorganisir
3.       Terwujudnya kondisi kerja yang nyaman
B. URAIAN
1. Ketua Jurusan otomotif
1.1   Tanggung Jawab
Bertanggung jawab kepada Waka atas terlaksananya KBM Produktif dan pengelolaan bengkel.
1.2  Wewenang
Merencanakan dan melaksanakan seluruh kegiatan KBM Produktif di Jurusan otomotif.
1.3    Tugas
Menyusun program jurusan otomotif dan mengkoordinasikan pelaksanaannya, yang meliputi:
1.3.1.      Bersama Waka 1 menyusun  jadwal kegiatan KBM  Produktif.
1.3.2.      Membuat tata tertib bengkel
1.3.3.      Menentukan kebutuhan bahan  dan alat KBM Produktif.
1.3.4.      Melaksanakan M&R sarana prasarana KBM Produktif.
1.3.5.      Melaksanakan pengembangan bengkel
1.3.6.      Bersama Waka 2 dan KTU melaksanakan pengadaan barang dan alat KBM Produktif
1.3.7.      Melaporkan rekapitulasi kehadiran mengajar guru produktip pada setiap bulan

2. Sekretaris
2.1 Tanggung Jawab
Bertanggung jawab kepada KJL dalam bidang administrasi dan pengarsipan program   keahlian.
2.2. Tugas
2.2.1.      Membantu KJL dalam mendokumentasikan hasil rapat program keahlian maupun pertemuan sekolah
2.2.2.      Membantu KJL dalam pelaksanaan yang berkaitan dengan pengendalian dokumen program keahlian
2.2.3.      Membantu KJL dalam penyampaian informasi tertulis kepada personil program keahlian dan siswa
3. Bendahara
3.1 Tanggung Jawab
Bertanggung jawab kepada KJL dalam bidang Keuangan program   keahlian.
3.2. Tugas
3.2.1.   Membantu KJL dalam menyusun RAPB Jurusan/  program keahlian.
3.2.2.   Membantu KJL dalam pelaksanaan pengaturan penggunaan anggaran jurusan.
3.2.3.   Membantu KJL dalam pengarsipan yang berhubungan dengan keuangan.
4. Koordinator Diklat
4.1  Tanggung Jawab
Bertanggung jawab kepada KJL koordinasi proses KBM sesuai mata Diklatnya
4.1.1.      Mengkoordinasikan materi mata Diklat, dalam penyusunan :
a.       RPP, Job Sheet, lembar informasi sesuai mata diklatnya.
b.      Pengembangan  media pengajaran sesuai mata diklatnya.
4.1.2.      Menyusun rencana alat serta bahan praktek selama 1 tahun.
4.1.3.      Mengajukan kebutuhan alat dan bahan praktek selama 1 tahun.
4.1.4.      Menyusun rencana kebutuhan peralatan bengkel ke depan sesuai kelompok belajar.
4.1.5.      Membantu merencanakan pengembangan bengkel sesuai tuntutan kurikulum yang berlaku (KTSP).
4.1.6.      Membantu merumuskan kompetensi yang harus dikuasai siswa.
4.1.7.      Berkoordinasi tentang materi mata diklat dengan koordinator mata diklat yang lain.
5. Kepala Bengkel Otomotif (Kabeng Otomotif)
5.1. Tanggung Jawab
Bertanggung jawab kepada  KJL dalam KBM Produktif dan administrasi bengkel.
5.2.       Wewenang
Merencanakan kebutuhan  peralatan   seluruh kegiatan KBM produktif.
5.3.       Tugas
5.3.1.        Merencanakan jadwal penggunaan bengkel
5.3.2.        Memonitoring kondisi inventaris bengkel
5.3.3.        Merencanakan dan mengkoordinasikan  perbaikan peralatan
5.3.4.        Menyusun kebutuhan bahan  dan peralatan bengkel KBM
5.3.5.        Membantu KJL dalam  penyusunan program keahlian.
5.3.6.        Menciptakan terlaksananya  5R di bengkel
5.3.7.        Menyampaikan laporan rutin  kondisi bengkel kepada KJL
5.3.8.        Membuat laporan tertulis setiap tahun.
5.3.9.        Merencanakan pengembangan bengkel.
5.3.10.    Mengawasi  keluar masuknya bahan dan alat

6.       Penelitian dan Pengembangan
6.1.       Tanggung Jawab
Bertanggung jawab kepada KJL dalam Pengembangan Kurikulum dan SDM.
6.2.       Wewenang
Mengkaji dan mengembangkan Kurikulum sesuai tuntutan DU/DI.
6.3.       Tugas
6.3.1. Mengevaluasi proses KBM Produktif.
6.3.2. Merencanakan peningkatan kualitas SDM guru produktif.
6.3.3. Merencanakan Kurikulum berbasis Teaching Factory.
7. Guru
7.1.    Tanggung jawab
Bertanggung jawab kepada KJL berkenaan dengan kegiatan KBM menurut tingkat yang diajarkan.
7.2.    Wewenang
Melaksanakan seluruh kegiatan yang berhubungan dengan KBM.
7.3.    Tugas
7.3.1. Program KBM meliputi :
7.3.1.1.        Persiapan meliputi analisis kurikulum, membuat RPP.
7.3.1.2.        Pelaksanaan KBM
7.3.1.3.        Evaluasi
7.3.1.4.        Analisis
7.3.1.5.        Perbaikan
7.3.1.6.        Pengayaan
7.3.2.     Pembinaan terhadap siswa
7.3.3.     Pengelolaan kelas


8. TOOLMAN
8.1.    Tanggung jawab
Bertanggung jawab kepada KJL dalam  penyiapan, perawatan dan penyimpanan alat dan  bahan praktek.
8.2. Tugas Khusus
8.1.             15 (Lima belas) menit sebelum jam pelajaran dimulai, harus sudah ada di ruangan alat (Tool Room).
8.2.             Memeriksa alat kelengkapan praktek.
8.3.             Memeriksa dan meneliti alat perlengkapan tersebut diatas tentang kerusakan atau kehilangan.
8.4.             Memberi pelayanan dan pemimjaman alat peralatan kepada siswa sesuai dengan ketentuan        yang berlaku.
8.5.             Menerima pengembalian alat peralatan yang dipinjam oleh siswa dan mencocokkan dengan bon alat.
8.6.             Membuat berita acara bila terjadi kerusakan atau kehilangan.
8.7.             Menginventarisasi alat peralatan yang ada diruang alat dan membukukan pada buku alat.
8.8.             Mengatur cara penyimpanan alat supaya teratur dan rapi.
8.9.             Memperbaiki alat-alat yang mengalami kerusakan ringan.
8.10.          Mengadakan timbang terima kepada Juru Alat bagian shiff berikutnya.
8.11.          Menjaga kebersihan ruang alat dan lingkungannya.


8.3. Tugas Umum
8.3.1.        Membuka dan menutup bengkel setiap hari sesuai jadwal.
8.3.2.        Membersihkan ruangan Instruktur/Guru.
8.3.3.        Membersihkan ruangan kamar ganti pakaian siswa.
8.3.4.        Menyiapkan air minum untuk guru dan stafnya.
8.3.5.        Mmembersihkan peralatan makan dan minum guru dan staf.
8.3.6.        Memeriksa keamanan bengkel dan penerangannya.
8.3.7.     Melaporkan kepada koordinator bengkel bila diperlukan tingkatan perawatan   gedung.
8.3.8.        Menyampaikan dan mengirim pesan untuk kepentingan bengkel.
8.3.9.        Menempel informasi dan pengumuman di bengkel.
8.3.10.    Memelihara tanaman disekitar bengkel.

Pengetahuan Tentang Busi

Pengetahuan Tentang Busi





Tipe-Tipe Busi :

- Busi Standart
Busi standar dipakai pada mesin bensin, kendaraan roda-4 (mobil), maupun kendaraan roda-2 (motor) untuk pemakaian sehari—hari
- Busi Resistor
Sistem Kelistrikan pada kendaraan dengan teknologi digital atau elektronik (EFI) dengan arus kecil akan terganggu dengan pemakaian busi standard,
Gangguan tersebut juga bisa dirasakan pada televisi dan radio akibat interfrensi gelombang

-Busi Platinum (ZU)
Busi platinum dirancang untuk pemakaian sehari-hari maupun untuk racing. Dengan daya hantar platinum yang lebih baik, menjamin unjuk kerja mesin lebih baik walaupun pada suhu tinggi dan beban berat.
Kebutuhan tegangan busi platinum juga lebih kecil dibanding busi standar sehingga memberikan kemudahan start.

-Busi Iridium
Busi Iridium adalah busi generasi baru dengan ujung elektroda positif berdiameter 0,7 mm untuk pemakaian standar dengan umur pemakaian lebih panjang.
Sedangkan diameter 0,4 mm merupakan yang terkecil didunia dipakai untuk kecepatan tinggi atau balapan.
Bahan ujung inti elektroda yang digunakan adalah campuran Iridium dan Rhodium (Iridium alloy).
Keiistimewaan Busi Iridium antara lain dapat menambah campuran bahan bakar udara yang miskin sehingga meningkatkan performa pembakaran baik pada kondisi idle maupun saat berkendara.
Kebutuhan tegangan juga lebih baik disetiap kondisi, demikian juga dengan daya akselerasinya.

info teknik:

Untuk menghasilkan unjuk kerja busi yang baik, diperlukan pemasangan yang baik pula. Pemasangan busi yang salah dapt merusak busi ataupun mesin.

Prosedure :
- pasang busi menggunakan tangan sampai putaran maksimal
- lanjutkan dengan menggunakan kunci busi sebesar setengan putaran
- bila menggunakan kunci mpment, perhatikan tabel di bawah ini

8 mm 0.8 ~1.0 kg.m
10 mm 1.0~1.2 kg.m
12 mm 1.5~2.0 kg.m
14 mm 2.0~2.5 kg.m
18 mm 3.0~4.0 kg.m

Tingkat Panas Busi

Tingkat panas busi adalah kemampuan busi dalam menyerap & membuang panas.
Menurut tingkat panasnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu Busi Dingin & Busi Panas.
Tingkat panas busi ditunjukan dengan nomor tingkat panasnya.

Kondisi Busi Normal:
-Insulator terlihat coklat atau keabu-abuan. Hanya sedikit terdapat bekas pembakaran yang menutupi electroda-electrodanya.
-Mudah dihidupkan, juga pada putaran mesin tinggi ataupun rendah, mesin bekerja dengan baik.

Kondisi Busi Abnormal:

-KOTORAN OLEH KARBON (CARBON FOULING)
Ciri: Insulator dan elektroda tertutup oleh lapisan serbuk karbon kering berwarna hitam.

Kondisi Mesin: Mesin susah dihidupkan, mesin tidak stabil pada kecepatan rendah. Penambahan kecepatan tidak bekerja lagi, dan terjadi mesin mati.

Penyebabnya:
1. Kesalahan pemakaian nomor tingkat panas busi.
2. Campuran bahan berlebihan (Karburator banjir).
3. Saringan udara tersumbat (kotor)
4. Bahan bakar tidak baik mutunya
5. Terlalu lama dipakai pada kecepatan rendah
6. Cuk tidak pada posisi off
7. Kelambatan pada waktu penyalaan

Solusi:
1. Penggunaan bahan bakar yang baik
2. Diperlukan perbaikan (service).
3. Gantilah busi dengan nomor tingkat panas busi yang setingkat lebih panas (nomor kecil)

-KOTORAN OLEH OLI (OIL FOULING)
Ciri: Basah oleh oli yang melapisi permukaan insulator dan elektroda. Kelihatan hitam dan basah.

Kondisi Mesin: Hampir 90% gangguan mesin yang disebabkan oleh busi, dikarenakan kotor oleh endapan karbon (carbon fouling), kotor oleh endapan oli dan kotor oleh endapan timah hitam.

Penyebabnya:
1. Kerusakan pada piston ring (piston ring aus) atau renggangnya klep tidak tepat.
2. Campuran gas bensin dan udara berlebihan (terlalu banyak bensin)
3. Pada mesin 2 tak, campuran oli terlalu banyak/melebihi pemakaian standar.
4. Mesin baru saja turun mesin (overhaul) dimana pada waktu pemasangan bagian mesin menggunakan banyak oli
Solusi:
1. Ganti/perbaiki bagian mesin yang sudah aus/rusak.
2. Stel/bersihkan karburator.
3. Gantilah busi dengan nomor tingkat panas busi yang setingkat lebih panas (nomor kecil)
4. Pada mesin 2 tak, stel pompa oli sesuai dengan standar
5. Gunakan Spesifikasi oli mesin yang tepat (sesuai Standar) dan bermutu baik.

-KOTORAN OLEH TIMAH HITAM
Ciri: Insulator berwarna kuning juga coklat

Kondisi Mesin: Mesin terasa tersendat-sendat pada waktu menambah kecepatan (akselerasi) atau pada waktu kecepatan tinggi.

Penyebabnya: Bensin yang bercampur dengan senyawa timah hitam. Bekas pembakaran senyawa ini, menempel pada ujung busi. Bila kendaraan akselerasi atau dengan kecepatan tinggi, senyawa itu akan meleleh sehingga menimbulkan kebocoran listrik dan kegagalan pembakaran.
Solusi:
1. Gantilah busi dengan nomor tingkat panas busi yang setingkat lebih panas (nomor kecil)
2. Pergunakan bensin premium
3. Jangan mengemudi dengan kecepatan rendah terlalu lama

-KOTORAN OLEH ENDAPAN (DEPOSIT FOULING)
Ciri: Endapan sisa penbakaran atau kerak busi, banyak menempel pada permukaan insulator dan elektroda busi dengan warna yang bermacam-macam.

Kondisi Mesin: Terasa ada gangguan pembakaran pada waktu menambah kecepatan atau pada waktu kecepatan tinggi.
Penyebabnya:
1. Oli yang dipakai kurang baik mutunya.
2. Saringan udara tidak ada (dilepas).
3. Untuk mesin 4 tak, oli mesin naik ke ruang bakar (piston & piston ring aus).
Solusi:
1. Perbaiki/ganti bagian yang rusak.
2. Perbaiki/ganti saringan udara.
3. Pergunakanlah oli yang bermutu baik dan campuran yang tepat
4. Gunakan Spesifikasi oli mesin yang tepat (sesuai Standar) dan bermutu baik.

-PANAS BERLEBIHAN (OVER HEATING)
Ciri: Bagian insulator berwarna putih pucat dan elektroda-elektrodanya terbakar berwarna keungu-unguan serta terlihat aus. Bila kondisi ini diteruskan, ujung-ujung elektrodanya dapat meleleh.

Kondisi Mesin: Tenaga mesin menjadi hilang dan kecepatan pun berkurang. Hal ini timbul apabila dalam kecepatan tinggi, pendakian yang lama atau dengan muatan yang berat. Bila elektroda busi sudah meleleh, pistonpun dapat menjadi rusak (berlubang).
Penyebabnya:
1. Kekeliruan memilih nomor tingkat panas busi.
2. Waktu penyalaan (ignition timing) terlalu cepat.
3. Sistim pendinginan kurang baik.
4. Campuran gas bensin dan udara terlalu tipis (terlalu banyak udara).
Solusi:
1. Pergunakanlah busi dengan nomor tingkat panas busi (heat range) yang setingkat lebih dingin.
2. Sesuaikanlah waktu pengapian (ignition -> timing).
3. Periksa/perbaiki sistim pendinginan
4. Stel dan bersihkan karburator.

Cloudns